Too long to read?
Let ChatGPT summarize this Smart Salary article for you in seconds.
Sistem Human Resources Information System (HRIS) seharusnya membantu tim HR mengelola data karyawan, menyederhanakan administrasi, dan menghasilkan laporan yang dibutuhkan perusahaan. Namun, bagaimana jika sistem yang digunakan justru membuat pekerjaan semakin panjang?
Data harus dipindahkan secara manual ke spreadsheet, laporan membutuhkan waktu berjam-jam untuk disusun, dan setiap kali perusahaan ingin mengintegrasikan aplikasi baru, tim IT harus mencari solusi tambahan. Di saat yang sama, perusahaan mulai membutuhkan analisis data yang lebih cepat dan alur kerja yang lebih otomatis.
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa HRIS yang digunakan sudah tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Di era AI-first, perusahaan semakin mempertimbangkan bagaimana kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), otomatisasi, dan integrasi data dapat mendukung pekerjaan sehari-hari. Namun, bukan berarti semua perusahaan harus langsung mengganti sistem HRIS hanya karena teknologinya sudah lama.
Lantas, apa saja tanda ganti HRIS yang perlu diperhatikan? Berikut tujuh indikator yang dapat membantu HR dan pemilik bisnis mengevaluasi apakah sistem saat ini masih layak dipertahankan, perlu ditingkatkan, atau sudah waktunya diganti.
Ready to see Smart Salary in action?
Book a free demo and see how it fits your team’s payroll.
1. Pekerjaan Administrasi HR Masih Bergantung pada Input Manual
Salah satu tanda HRIS ketinggalan adalah ketika banyak pekerjaan rutin tetap harus dilakukan secara manual meskipun perusahaan sudah menggunakan sistem digital.
Contohnya, tim HR masih harus:
- Memasukkan data karyawan yang sama ke beberapa aplikasi.
- Memindahkan data kehadiran ke spreadsheet sebelum diproses untuk payroll.
- Memperbarui informasi karyawan di berbagai file secara terpisah.
- Mengirimkan pengingat persetujuan cuti melalui pesan atau email satu per satu.
- Memeriksa ulang data karena perubahan di satu sistem tidak otomatis tercatat di sistem lain.
Pekerjaan manual tidak selalu berarti sistem sudah usang. Beberapa proses mungkin memang memerlukan pemeriksaan atau persetujuan manusia. Namun, jika pekerjaan berulang terus menyita waktu tanpa memberikan nilai tambah, Anda perlu mengevaluasi apakah proses tersebut dapat disederhanakan.
Contoh kasus:
Perusahaan memiliki 200 karyawan. Setiap akhir bulan, tim HR mengunduh data kehadiran, merapikan formatnya, lalu memindahkan data ke file payroll. Setelah itu, tim payroll masih harus mencocokkan beberapa data secara manual.
Jika proses ini terus berulang, perusahaan perlu meninjau apakah HRIS saat ini mendukung integrasi yang dibutuhkan atau masih memerlukan konfigurasi tambahan.
Yang perlu dievaluasi: Berapa banyak tahapan manual yang sebenarnya dapat diotomatisasi, dan berapa jam kerja yang dibutuhkan setiap bulan untuk menyelesaikannya?
2. Laporan HR Membutuhkan Waktu Terlalu Lama untuk Disusun
Laporan HR membantu manajemen memahami kondisi tenaga kerja, mulai dari jumlah karyawan aktif, tingkat turnover, kehadiran, hingga perkembangan kinerja.
Masalah muncul ketika tim HR harus menggabungkan berbagai file sebelum dapat menjawab pertanyaan sederhana, seperti berapa jumlah karyawan yang keluar dalam satu kuartal atau divisi mana yang mengalami peningkatan turnover.
Menurut Society for Human Resource Management (SHRM), kemampuan pelaporan dan analitik tenaga kerja merupakan salah satu kapabilitas penting dalam HRIS modern. Sistem yang baik perlu mendukung pengolahan informasi seperti tren jumlah karyawan, turnover, pemanfaatan cuti, dan indikator kinerja tenaga kerja. Baca referensi SHRM tentang modernisasi HRIS.
Perhatikan beberapa tanda berikut:
- Laporan rutin masih harus disusun ulang secara manual setiap bulan.
- Data dari berbagai divisi memiliki format atau definisi yang berbeda.
- HR sulit membandingkan hasil antarperiode.
- Manajemen harus menunggu lama untuk mendapatkan laporan terbaru.
- Perubahan data tidak mudah ditelusuri.
Jika kondisi tersebut sering terjadi, periksa apakah masalahnya berasal dari kualitas data, konfigurasi sistem, keterampilan pengguna, atau keterbatasan fitur HRIS.
Yang perlu dievaluasi: Apakah sistem dapat menghasilkan laporan yang dibutuhkan secara konsisten tanpa proses penggabungan data yang berlebihan?
3. HRIS Tidak Terintegrasi dengan Sistem Lain
HRIS jarang bekerja sendirian. Bergantung pada kebutuhan perusahaan, sistem ini mungkin perlu terhubung dengan aplikasi payroll, absensi, rekrutmen, manajemen kinerja, atau sistem keuangan.
Jika aplikasi-aplikasi tersebut tidak terhubung dengan baik, tim HR berisiko menghadapi data ganda, perbedaan informasi, dan pekerjaan tambahan untuk mencocokkan catatan.
Misalnya, karyawan sudah memperbarui informasi tertentu di sistem HR, tetapi perubahan tersebut belum tercermin di aplikasi lain. Tim HR kemudian harus mencari sumber data yang benar dan memperbarui informasi secara manual.
SHRM menjelaskan bahwa integrasi antarsistem HR berperan penting dalam menghubungkan data dan mendukung analisis yang lebih bermakna. Namun, kualitas data dan konsistensi format tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan integrasi. Pelajari tantangan integrasi data HR.
Sebelum memutuskan mengganti HRIS, periksa apakah sistem saat ini sudah menyediakan:
- Integrasi bawaan dengan aplikasi yang digunakan perusahaan.
- API atau mekanisme pertukaran data yang sesuai kebutuhan.
- Dokumentasi integrasi yang jelas.
- Proses pencatatan dan penanganan kegagalan sinkronisasi.
- Dukungan teknis ketika integrasi mengalami kendala.
Yang perlu dievaluasi: Apakah keterbatasan integrasi dapat diatasi melalui konfigurasi atau konektor tambahan, atau memang membutuhkan sistem yang lebih sesuai?
4. Sistem Sulit Mendukung Otomatisasi dan Pemanfaatan AI
Era AI-first mendorong perusahaan untuk mengevaluasi cara teknologi membantu pekerjaan, bukan sekadar menggantikan dokumen kertas dengan formulir digital.
Dalam konteks HR, AI dapat digunakan untuk membantu merangkum informasi, menyusun draf laporan, menjawab pertanyaan berdasarkan sumber yang diizinkan, atau mengidentifikasi pola awal dari data tenaga kerja. Sementara itu, otomatisasi dapat membantu menjalankan alur kerja berulang berdasarkan aturan yang ditetapkan perusahaan.
Namun, tidak semua HRIS harus memiliki chatbot AI untuk dianggap modern. Yang lebih penting adalah apakah sistem dapat mendukung kebutuhan otomatisasi, integrasi, dan pengelolaan data perusahaan secara memadai.
Sistem yang sulit diintegrasikan dengan alat analitik atau memiliki struktur data yang tidak konsisten dapat menyulitkan perusahaan ketika ingin mengembangkan pemanfaatan AI.
Sebelum melakukan upgrade, tanyakan:
- Apakah HRIS mendukung ekspor data atau integrasi yang dibutuhkan untuk analisis?
- Apakah alur kerja berulang dapat diotomatisasi?
- Apakah penyedia sistem memiliki rencana pengembangan fitur yang relevan?
- Bagaimana data karyawan dilindungi jika perusahaan menggunakan fitur AI?
- Apakah hasil AI dapat ditinjau dan diverifikasi oleh manusia?
Contoh kasus:
HR Manager ingin menyusun ringkasan tren turnover berdasarkan data beberapa periode. Namun, data masih tersebar di banyak file dengan definisi dan format yang berbeda. Sebelum menggunakan AI, tim harus menggabungkan dan membersihkan data tersebut terlebih dahulu.
Dalam situasi ini, tantangannya bukan semata-mata ketiadaan fitur AI. Perusahaan juga perlu memperbaiki tata kelola dan integrasi data agar analisis dapat dilakukan secara lebih konsisten.
Yang perlu dievaluasi: Apakah HRIS saat ini dapat menjadi fondasi data yang memadai untuk kebutuhan otomatisasi dan AI perusahaan?
5. Pengalaman Pengguna Membuat Karyawan dan Manajer Enggan Menggunakan Sistem
HRIS bukan hanya digunakan oleh tim HR. Karyawan dan manajer juga mungkin menggunakannya untuk mengajukan cuti, memperbarui informasi, memeriksa slip gaji, atau memberikan persetujuan.
Jika sistem sulit digunakan, pengguna bisa kembali mengandalkan pesan pribadi, email, dan spreadsheet. Akibatnya, proses yang seharusnya terpusat justru tersebar di berbagai saluran.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Karyawan kesulitan mengakses fitur yang dibutuhkan.
- Manajer terlambat menyetujui pengajuan karena alur kerja tidak jelas.
- Tim HR sering menerima pertanyaan mengenai proses yang seharusnya dapat dilakukan secara mandiri.
- Pengguna membuat catatan sendiri di luar sistem.
- Sistem tidak mendukung kebutuhan akses melalui perangkat yang digunakan karyawan.
Sebelum mengganti sistem, cari tahu apakah kendalanya berasal dari desain aplikasi, kurangnya pelatihan, atau proses internal yang terlalu rumit.
Yang perlu dievaluasi: Apakah sistem cukup mudah digunakan oleh seluruh kelompok pengguna yang membutuhkannya, termasuk karyawan, manajer, dan administrator HR?
6. Keamanan Data dan Kontrol Akses Sulit Dikelola
HRIS menyimpan informasi yang bersifat sensitif, seperti data identitas, riwayat pekerjaan, informasi kompensasi, dan dokumen personalia. Karena itu, keamanan data perlu menjadi bagian utama dalam evaluasi sistem.
Sistem yang tidak mendukung pengelolaan akses secara memadai dapat menyulitkan perusahaan memastikan bahwa setiap pengguna hanya dapat mengakses informasi sesuai kewenangannya.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Hak akses sulit disesuaikan ketika karyawan berpindah jabatan.
- Akses mantan karyawan tidak dapat ditinjau atau dinonaktifkan melalui proses yang jelas.
- Riwayat perubahan data sulit ditelusuri.
- Pengaturan izin pengguna terlalu terbatas.
- Informasi keamanan dan dukungan pembaruan dari penyedia sistem tidak jelas.
Tidak semua kendala keamanan berarti perusahaan harus langsung mengganti HRIS. Sebagian masalah mungkin dapat diselesaikan melalui konfigurasi akses, pembaruan sistem, atau perbaikan prosedur internal.
Namun, jika sistem tidak lagi mendapatkan dukungan yang memadai atau tidak dapat memenuhi kebutuhan kontrol dan keamanan perusahaan, upgrade perlu dipertimbangkan dengan serius.
Perusahaan di Indonesia juga perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku, termasuk Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Yang perlu dievaluasi: Apakah sistem dapat mendukung pengelolaan hak akses, pencatatan aktivitas, dan perlindungan data sesuai kebutuhan serta kebijakan perusahaan?
7. Sistem Tidak Lagi Mengikuti Pertumbuhan Bisnis
HRIS yang sesuai untuk perusahaan dengan puluhan karyawan belum tentu memadai ketika jumlah tenaga kerja bertambah, struktur organisasi menjadi lebih kompleks, atau perusahaan membuka lokasi operasional baru.
Pertumbuhan bisnis dapat memunculkan kebutuhan baru, seperti pengelolaan beberapa entitas perusahaan, struktur persetujuan yang berbeda, pelaporan lintas divisi, dan integrasi dengan sistem lain.
Jika setiap perubahan organisasi selalu membutuhkan banyak penyesuaian manual, sistem mungkin sudah mendekati batas kemampuannya.
Contoh situasi yang perlu diperhatikan:
- Penambahan karyawan membuat proses administrasi semakin lambat.
- Struktur organisasi baru sulit diterapkan dalam sistem.
- Perusahaan membutuhkan laporan lintas divisi, tetapi data tidak dapat ditampilkan sesuai kebutuhan.
- Fitur yang diperlukan hanya tersedia melalui aplikasi terpisah yang sulit diintegrasikan.
- Biaya pemeliharaan dan solusi tambahan terus meningkat.
Dalam kondisi ini, perusahaan perlu membandingkan biaya dan risiko mempertahankan sistem lama dengan investasi untuk melakukan upgrade atau migrasi.
Yang perlu dievaluasi: Apakah HRIS saat ini dapat mendukung kebutuhan bisnis dalam satu hingga tiga tahun ke depan tanpa menambah kompleksitas operasional secara berlebihan?
Checklist: Apakah Sudah Waktunya Ganti HRIS?
Gunakan checklist berikut untuk menilai kondisi sistem yang digunakan perusahaan saat ini.
Indikator | Ya | Tidak |
|---|---|---|
Proses administrasi berulang masih banyak dilakukan secara manual | ☐ | ☐ |
Pembuatan laporan rutin membutuhkan banyak penggabungan data | ☐ | ☐ |
Integrasi dengan sistem lain sering mengalami kendala | ☐ | ☐ |
Sistem sulit mendukung kebutuhan otomatisasi atau analitik | ☐ | ☐ |
Karyawan dan manajer sering mengandalkan proses di luar sistem | ☐ | ☐ |
Kontrol akses dan penelusuran perubahan data belum memadai | ☐ | ☐ |
Sistem sulit mengikuti pertumbuhan dan perubahan bisnis | ☐ | ☐ |
Checklist ini merupakan alat evaluasi awal, bukan standar penilaian universal. Tidak ada jumlah jawaban “Ya” tertentu yang otomatis mengharuskan perusahaan mengganti HRIS.
Jika beberapa masalah muncul secara berulang dan berdampak pada banyak proses, lakukan evaluasi lebih lanjut. Identifikasi penyebabnya terlebih dahulu, kemudian bandingkan opsi perbaikan, upgrade, penambahan integrasi, atau penggantian sistem.
Kapan Ganti HRIS dan Kapan Cukup Upgrade?
Menemukan tanda HRIS ketinggalan bukan berarti perusahaan harus langsung bermigrasi ke sistem baru. Keputusan terbaik bergantung pada penyebab masalah, biaya, risiko, dan kebutuhan operasional.
Kondisi saat ini | Langkah yang dapat dipertimbangkan |
|---|---|
Fitur sebenarnya tersedia, tetapi belum digunakan optimal | Pelatihan pengguna dan perbaikan konfigurasi |
Data tidak konsisten atau banyak duplikasi | Audit dan pembersihan data |
Alur kerja tidak efisien, tetapi masih dapat diatur ulang | Evaluasi dan penyederhanaan proses |
Sistem membutuhkan koneksi dengan aplikasi lain | Penambahan atau perbaikan integrasi |
Fitur penting tidak tersedia dan tidak dapat ditambahkan | Pertimbangkan upgrade atau penggantian sistem |
Dukungan teknis atau keamanan sudah tidak memadai | Evaluasi risiko dan rencana migrasi |
Sistem tidak mampu mendukung kebutuhan bisnis ke depan | Bandingkan alternatif berdasarkan kebutuhan jangka panjang |
Agar keputusan lebih objektif, HR dan pemilik bisnis dapat menilai beberapa indikator sebelum memilih sistem baru:
- Efisiensi waktu: berapa banyak waktu yang digunakan untuk administrasi, koreksi data, dan penyusunan laporan?
- Kualitas data: seberapa sering ditemukan data ganda, informasi yang tidak sesuai, atau kesalahan input?
- Biaya operasional: berapa biaya lisensi, pemeliharaan, integrasi, serta pekerjaan manual yang masih diperlukan?
- Kesesuaian fitur: apakah sistem mendukung proses HR yang benar-benar dibutuhkan?
- Keamanan dan dukungan: apakah penyedia memiliki dokumentasi keamanan, dukungan teknis, dan pembaruan yang memadai?
- Kemampuan berkembang: apakah sistem dapat mengikuti perubahan kebutuhan perusahaan?
Dengan cara ini, keputusan upgrade tidak hanya didasarkan pada tren teknologi, tetapi juga pada kebutuhan dan dampak bisnis yang dapat dinilai.
Apa yang Perlu Diperiksa Sebelum Memilih HRIS Baru?
Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem lama sudah tidak sesuai, jangan terburu-buru memilih pengganti hanya karena memiliki banyak fitur.
Gunakan kebutuhan bisnis sebagai dasar perbandingan. Pastikan Anda mengevaluasi:
- Fitur inti HR: pengelolaan data karyawan, administrasi personalia, dan proses yang relevan dengan perusahaan.
- Integrasi: kemampuan terhubung dengan sistem payroll, kehadiran, atau aplikasi lain yang dibutuhkan.
- Pelaporan: ketersediaan laporan dan fleksibilitas penyajian data.
- Kemudahan penggunaan: pengalaman karyawan, manajer, dan tim HR.
- Keamanan: kontrol akses, pencatatan aktivitas, dan pengelolaan data.
- Skalabilitas: kemampuan mendukung pertumbuhan organisasi.
- Implementasi: proses migrasi data, pelatihan pengguna, dan dukungan setelah sistem digunakan.
- Biaya total: lisensi, implementasi, integrasi, pemeliharaan, dan biaya perubahan proses.
Mintalah penyedia sistem mendemonstrasikan skenario yang benar-benar terjadi di perusahaan Anda. Misalnya, bagaimana sistem menangani karyawan baru, perubahan jabatan, proses persetujuan, atau pembuatan laporan bulanan.
Dengan begitu, perusahaan dapat menilai kemampuan sistem berdasarkan kebutuhan nyata, bukan hanya presentasi fitur.
HRIS yang sudah lama digunakan tidak otomatis ketinggalan zaman. Namun, jika sistem terus menimbulkan pekerjaan manual, menyulitkan pelaporan, tidak terintegrasi, atau tidak mampu mengikuti kebutuhan bisnis, perusahaan perlu mengevaluasi kembali kelayakannya.
Tujuh tanda di atas dapat menjadi titik awal bagi HR dan pemilik bisnis untuk menentukan apakah sistem saat ini masih dapat dioptimalkan, perlu ditingkatkan, atau sebaiknya diganti.
Di era AI-first, tujuan utama upgrade bukan sekadar memiliki teknologi terbaru. Yang lebih penting adalah membangun proses HR yang terstruktur, data yang dapat diandalkan, dan sistem yang mendukung operasional bisnis secara berkelanjutan.
Jika perusahaan Anda sedang mengevaluasi HRIS yang digunakan saat ini, pelajari solusi HRIS dari Smart Salary untuk melihat bagaimana sistem pengelolaan HR dapat mendukung kebutuhan administrasi perusahaan. Anda juga dapat berkonsultasi dengan tim Smart Salary untuk mendiskusikan kebutuhan dan proses HR yang ingin ditingkatkan.
Tri Yuniwati Lestari adalah seorang content writer yang senang mengubah ide menjadi cerita bermakna melalui kata-kata. Saya tertarik pada komunikasi, dunia HR, budaya kerja, dan pengembangan diri. Saya percaya bahwa komunikasi yang baik dapat membangun koneksi dan menciptakan dampak positif.
✨ Ask AI which HR & payroll platform is best. See what it says!



