Too long to read?
Let ChatGPT summarize this Smart Salary article for you in seconds.
Setiap karyawan datang dengan kepribadian, cara berpikir, dan gaya kerja yang berbeda. Ada yang senang bekerja sendiri, ada yang lebih produktif saat berdiskusi. Ada yang menyukai struktur yang rapi, ada pula yang nyaman dengan fleksibilitas. Perbedaan ini adalah hal yang wajar, terutama di lingkungan kerja modern yang semakin beragam.
Untuk memahami perbedaan tersebut, banyak perusahaan mulai menggunakan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) sebagai alat bantu mengenali karakter karyawan maupun kandidat. MBTI membantu HR melihat bagaimana seseorang berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga bekerja sama dalam tim.
Namun, memahami kepribadian saja tidak cukup. HR juga perlu sistem yang mampu mengelola seluruh proses SDM secara rapi dan efisien.
Apa Itu MBTI dan Bagaimana Cara Kerjanya?

MBTI adalah tes kepribadian yang dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers dan Katherine Cook Briggs berdasarkan teori Carl Gustav Jung. Tes ini mengukur preferensi seseorang dalam empat dimensi utama:
- Introvert (I) vs Extrovert (E)
Menggambarkan dari mana seseorang mendapatkan energi. Introvert cenderung mengisi ulang energi lewat waktu sendiri, sementara extrovert merasa lebih bersemangat saat berinteraksi dengan orang lain. - Sensing (S) vs Intuition (N)
Menunjukkan cara seseorang menerima informasi. Tipe Sensing lebih fokus pada fakta dan hal-hal konkret, sedangkan Intuition lebih melihat gambaran besar dan kemungkinan di masa depan. - Thinking (T) vs Feeling (F)
Berkaitan dengan cara mengambil keputusan. Thinking mengutamakan logika dan objektivitas, sementara Feeling mempertimbangkan perasaan serta dampak keputusan terhadap orang lain. - Judging (J) vs Perceiving (P)
Menggambarkan gaya bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari. Judging menyukai rencana yang jelas dan terstruktur, sedangkan Perceiving lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan.
Kombinasi dari empat dimensi ini menghasilkan 16 tipe kepribadian, seperti ISTJ, ENFP, INFJ, dan lainnya.
Untuk mulai mengenal tipe MBTI, karyawan maupun kandidat bisa mengikuti tes online gratis melalui platform seperti 16Personalities (https://www.16personalities.com) yang cukup populer dan mudah dipahami.
Hasil tes ini biasanya digunakan sebagai gambaran awal tentang gaya kerja dan komunikasi seseorang.
Peran MBTI dalam Rekrutmen dan Pengelolaan Tim

Dalam proses rekrutmen, MBTI sering dimanfaatkan untuk membantu HR:
1. Menilai kecocokan kandidat dengan posisi
Setiap pekerjaan memiliki tuntutan yang berbeda. MBTI membantu HR melihat apakah gaya kerja kandidat sesuai dengan peran yang dibutuhkan. Misalnya, tipe extrovert cenderung cocok untuk posisi yang banyak berinteraksi dengan orang, sementara introvert biasanya lebih nyaman di pekerjaan yang membutuhkan fokus mendalam.
2. Membentuk tim yang lebih seimbang
MBTI juga membantu menyusun tim dengan karakter yang saling melengkapi. Ada anggota yang kuat dalam perencanaan, ada yang unggul dalam kreativitas dan fleksibilitas. Kombinasi ini dapat meningkatkan efektivitas kerja sekaligus mengurangi potensi konflik.
3. Mengenali soft skills kandidat
Selain kemampuan teknis, MBTI memberi gambaran tentang gaya komunikasi, cara mengambil keputusan, dan pendekatan interpersonal kandidat hal-hal yang sering kali sulit terlihat hanya dari CV.
Keterbatasan MBTI yang Perlu Dipahami HR
Meski bermanfaat, MBTI bukan alat yang sempurna. HR tetap perlu memahami keterbatasannya.
Hasil MBTI tidak selalu bersifat tetap, karena dapat dipengaruhi oleh kondisi emosional dan perkembangan pengalaman kerja. Selain itu, kepribadian manusia jauh lebih kompleks dibanding pengelompokan ke dalam 16 tipe, sementara MBTI sendiri belum mengukur aspek seperti motivasi, kemampuan adaptasi, maupun kinerja aktual.
Karena itu, MBTI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung, bukan satu-satunya dasar keputusan. Idealnya, hasil MBTI dikombinasikan dengan wawancara berbasis kompetensi, tes keterampilan, dan evaluasi pengalaman kerja.
Pendekatan ini membantu HR mendapatkan gambaran kandidat yang lebih utuh dan objektif.
Tantangan HR: Bukan Hanya Karakter, tapi Juga Administrasi
Selain mengelola perbedaan karakter, HR juga menghadapi tantangan operasional seperti:
- Data kandidat dan karyawan tersebar di banyak file
- Proses onboarding yang masih manual
- Absensi yang tidak real-time
- Pengajuan cuti lewat chat pribadi
- Payroll rawan kesalahan
- Karyawan sering menanyakan slip gaji atau sisa cuti
Ketika jumlah karyawan bertambah, proses-proses ini bisa menyita banyak waktu dan energi HR. Akibatnya, HR jadi lebih fokus pada pekerjaan administratif dibanding pengembangan SDM.
Menggabungkan Pendekatan Human dan Teknologi
MBTI membantu HR memahami sisi manusia. Namun, untuk mengelola proses kerja sehari-hari secara efisien, HR membutuhkan sistem yang terstruktur.
Di sinilah HRIS Smart Salary berperan. Melalui satu platform, HR dapat:
- Mengelola database karyawan secara terpusat
- Memantau kehadiran secara real-time
- Mengatur cuti dan izin dengan sistem approval otomatis
- Memproses payroll dengan lebih cepat dan akurat
- Memberikan akses Employee Self Service agar karyawan bisa melihat slip gaji, sisa cuti, dan data pribadi secara mandiri
Dengan dukungan HRIS, HR tidak lagi direpotkan oleh proses manual yang berulang. Waktu dan energi bisa dialihkan ke hal yang lebih strategis, seperti pengembangan karyawan dan pembangunan budaya kerja.
Kelola Perbedaan Karakter Tanpa Ribet
MBTI membantu perusahaan memahami karakter karyawan, sementara HRIS Smart Salary membantu mengelola seluruh proses SDM secara sistematis. Kombinasi keduanya memungkinkan HR menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, transparan, dan produktif.
Dengan sistem yang terintegrasi, HR dapat mengelola perbedaan karakter tanpa ribetda n fokus membangun tim yang siap tumbuh bersama perusahaan.


