Too long to read?
Let ChatGPT summarize this Smart Salary article for you in seconds.
“Kerja nggak perlu berlebihan, yang penting selesai.”
Pernah kepikiran atau bahkan sudah mulai menjalani prinsip ini?
Di tengah tekanan kerja yang makin tinggi, banyak karyawan mulai memilih untuk bekerja “seperlunya”. Fenomena ini dikenal sebagai quiet quitting bukan berarti resign secara harfiah, tapi lebih ke menarik batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Lalu, sebenarnya ini hal yang sehat… atau justru tanda ada yang salah di tempat kerja?
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan hanya menjalankan tugas sesuai job description tanpa memberikan usaha ekstra di luar itu. Mereka tetap bekerja, tetap menyelesaikan tanggung jawab, tapi tidak lagi terdorong untuk “go the extra mile”.
Contohnya:
- Tidak membalas chat kerja di luar jam kantor
- Menolak tugas tambahan di luar peran
- Tidak terlalu aktif dalam diskusi atau inisiatif tambahan
- Fokus bekerja secukupnya, bukan semaksimal mungkin
Fenomena ini mulai ramai sejak 2022, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang semakin sadar pentingnya work-life balance.
Kenapa Quiet Quitting Terjadi?

Quiet quitting bukan muncul tanpa alasan. Justru sering kali ini adalah “respon diam” dari karyawan terhadap kondisi kerja yang kurang sehat.
Beberapa penyebab yang paling umum:
1. Kurangnya apresiasi
Sudah kerja keras, tapi tidak ada recognition atau reward yang sepadan.
2. Beban kerja berlebih
Tugas terus bertambah tanpa kejelasan batas, bahkan sampai mengganggu waktu pribadi.
3. Lingkungan kerja yang tidak sehat
Mulai dari atasan yang kurang suportif sampai rekan kerja yang toxic.
4. Rutinitas yang monoton
Pekerjaan terasa stagnan tanpa perkembangan karier yang jelas.
5. Burnout dan kelelahan mental
Terlalu lama berada dalam tekanan membuat karyawan memilih “mode hemat energi”.
Dampaknya Tidak Selalu Negatif
Quiet quitting sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, tidak sesederhana itu.
Sisi Positif
Di satu sisi, quiet quitting bisa membantu karyawan:
- Menjaga kesehatan mental
- Menghindari burnout
- Memiliki waktu lebih untuk kehidupan pribadi
- Menetapkan batas kerja yang lebih sehat
Ini bisa jadi langkah awal untuk menciptakan work-life balance yang lebih realistis.
Sisi Negatif
Namun, jika berlebihan, dampaknya juga cukup serius:
- Produktivitas menurun
- Minim inisiatif dan inovasi
- Engagement karyawan rendah
- Peluang karier jadi stagnan
- Dalam jangka panjang, bisa berdampak ke performa perusahaan
Artinya, quiet quitting bukan solusi utama melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Yang Sering Terlewat, Ini Bukan Cuma Masalah Karyawan
Banyak perusahaan langsung menyalahkan karyawan ketika melihat gejala quiet quitting. Padahal, akar masalahnya sering datang dari sistem kerja itu sendiri.
Misalnya:
- Proses HR yang ribet (cuti, reimbursement, absensi)
- Payroll yang sering telat atau tidak transparan
- Beban kerja tidak terdistribusi dengan baik
- Kurangnya visibility terhadap performa karyawan
Hal-hal ini secara tidak langsung membuat karyawan kehilangan motivasi.
Peran HR & Sistem Kerja yang Lebih Sehat
Di sinilah peran HR menjadi krusial, bukan hanya mengelola administrasi, tapi juga menciptakan pengalaman kerja yang lebih baik. Salah satu cara yang mulai banyak digunakan perusahaan adalah dengan mengadopsi sistem HRIS (Human Resource Information System).
Karena sistem yang rapi bisa mengurangi banyak “friksi” dalam pekerjaan sehari-hari.Dengan HRIS seperti Smart Salary, perusahaan bisa:
- Mengelola payroll secara otomatis dan akurat
- Memastikan absensi dan jam kerja lebih transparan
- Mempermudah pengajuan cuti dan administrasi karyawan
- Memantau performa secara lebih objektif
- Mengurangi beban administratif HR yang repetitif
Hasilnya… Karyawan tidak lagi terbebani hal-hal teknis yang melelahkan, dan HR bisa lebih fokus membangun engagement.
Apakah Quiet Quitting Perlu Dihindari?
Quiet quitting bisa jadi tanda bahwa seseorang sedang mencoba menjaga dirinya. Tapi kalau dibiarkan tanpa solusi, ini bisa berkembang menjadi disengagement yang lebih besar.
Yang lebih penting adalah memahami kenapa fenomena ini terjadi, lalu memperbaiki sistem di baliknya.
Karena pada akhirnya, karyawan yang merasa didukung baik dari sisi budaya kerja maupun sistem tidak akan hanya bekerja “seperlunya”, tapi juga punya motivasi untuk berkembang.


