Too long to read?
Let ChatGPT summarize this Smart Salary article for you in seconds.
Pernah nggak sih, dapat undangan acara dari vendor B2B? Entah itu gala dinner, workshop, atau sesi networking. Di atas kertas, janjinya adalah “nambah insight” atau “membangun koneksi”. Tapi kita semua tahu aturan tak tertulisnya: setelah makan enak, siap-siap aja duduk manis dengerin presentasi jualan selama 45 menit.
Khususnya di dunia HR, playbook kayak gini udah jadi rahasia umum. Vendor ngumpulin daftar kontak, bikin acara, lalu memprospek seisi ruangan. Para praktisi HR yang datang pun biasanya udah pasang “kuda-kuda” alias defense mechanism sejak masuk pintu depan.

Makanya, pada 8 April lalu, kami di Smart Salary memutuskan buat ngelakuin sesuatu yang agak nyeleneh.
Kami mem-booking satu studio di CGV Pacific Place dan mengundang teman-teman praktisi HR dari berbagai industri—termasuk leader dari komunitas sekeren HR Sync dan HR Millennial—buat nonton bareng film fiksi ilmiah, Project Hail Mary. Kami nyiapin popcorn, kami traktir minuman. Terus?
Terus ya udah, kita semua nonton aja.
Nggak ada sambutan panjang lebar dari manajemen. Nggak ada demo aplikasi. Nggak ada sesi “Halo, perkenalkan kami dari Smart Salary…”. Lampu bioskop dimatikan, film diputar, dan selama dua jam, kami membiarkan teman-teman HR ini cuma enjoy menikmati film.
Alasan Sederhana di Balik “Tanpa Jualan”
Kami tahu betul kalau audiens yang datang pasti udah berekspektasi bakal ada sesi jualan. Acara-acara sebelumnya dari berbagai vendor udah ngelatih mereka buat mikir gitu. Tapi kami pengen mendobrak asumsi itu. Caranya? Bukan dengan cuap-cuap ngomong kalau kami ini “beda”, tapi dengan langsung ngebuktiinnya.
Kita semua tahu, teman-teman HR itu tiap hari kerjaannya ngurusin orang lain di kantor. Mereka jadi tempat curhat, peredam konflik, sampai pahlawan wellbeing buat para karyawan. Tapi, siapa yang ngurusin mereka? Kapan mereka dapet perhatian yang sama?
Waktu ngerencanain acara ini, tujuan kami cuma satu: ngasih ruang buat teman-teman HR untuk napas sebentar. Kami pengen mereka merasa dihargai sebagai manusia yang butuh hiburan dan istirahat, bukan cuma dilihat sebagai target prospek yang harus di-closing.

Plot Twist-nya: Tembok Pertahanan yang Runtuh
Dan tau nggak apa yang terjadi setelah filmnya selesai? Hasilnya malah bikin kami speechless.
Karena nuansa transaksional udah kami buang jauh-jauh dari awal, suasananya jadi cair banget. Waktu ngobrol-ngobrol di lounge setelah credit title bergulir, orang-orang jadi super candid nyeritain struggle kerjaan mereka.
Mulai dari pusingnya ngurus tim yang kerjanya remote, ekspektasi aplikasi HR yang kadang manis di janji tapi pait pas dipakai, sampai susahnya merjuangin wellbeing di perusahaan yang masih mendewakan angka produktivitas semata.
Lucunya (dan ini adalah sebuah paradoks yang indah), justru karena kami nggak jualan, obrolan bisnis yang terjadi malah jauh lebih dalam.
Tiba-tiba ada yang santai cerita soal timeline transformasi digital di kantornya. Ada yang curhat jujur soal masalah sistem HR yang sekarang mereka pakai. Bahkan, mereka nanya-nanya sendiri soal fitur Smart Salary karena memang obrolannya mengalir senatural itu, bukan karena dipaksa dengerin.
Ternyata, rumus klasiknya bener: jalan tercepat buat dapet obrolan bisnis yang tulus adalah dengan berhenti maksa buat ngobrolin bisnis. Orang bakal terbuka dan cerita apa yang mereka butuhin kalau mereka udah percaya. Dan rasa percaya itu muncul waktu kita memperlakukan orang lain dengan care.
Bukan Sekadar Campaign

Pemilihan film Project Hail Mary juga bukan random. Film ini bercerita tentang astronot yang hilang ingatan di luar angkasa dan harus bertahan hidup lewat rasa ingin tahu dan koneksi yang tulus antar makhluk. Buat teman-teman HR yang di kantor sering terjebak urusan regulasi, budget, dan birokrasi kaku, pesan soal kekuatan koneksi manusia ini ternyata relate banget.
Bagi kami di Smart Salary, malam itu bukan sekadar taktik marketing. Ini adalah cara kami mempraktikkan nilai yang kami yakini: bahwa teknologi di tempat kerja itu harusnya melayani manusia, bukan sebaliknya.
Ke depannya, kami udah nyiapin acara-acara seru lainnya, kayak HR Leaders Gathering (ngobrolin culture bareng Decathlon Indonesia) dan inisiatif buat ngehubungin anak panti asuhan dengan teman-teman HR lewat program saling kirim surat.
Acara malam itu di CGV membuktikan satu hal: ketika kita berhenti melihat audiens sebagai target metrik dan mulai melihat mereka sebagai manusia, obrolan bisnis yang sesungguhnya baru saja dimulai.


