The Performing HR: Membangun Kinerja dan Karier HR yang Lebih Strategis di Era Digital

💡

Too long to read?

Let ChatGPT summarize this Smart Salary article for you in seconds.

HR Smart Talk Episode 4

Peran Human Resources saat ini terus mengalami transformasi. Jika dahulu HR lebih banyak berfokus pada administrasi dan kepatuhan, kini HR dituntut untuk menjadi mitra strategis yang mampu memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan bisnis. Namun di tengah tuntutan tersebut, masih banyak profesional HR yang terjebak dalam pekerjaan operasional sehari hari hingga lupa mengelola perkembangan karier dan kinerja mereka sendiri.

Topik inilah yang menjadi fokus utama dalam HR Smart Talk Episode 4 dengan topik The Performing HR: Career & Performance Growth yang diselenggarakan oleh Smart Salary. Webinar ini menghadirkan Retno Pratiwi, HRGA Manager Steel Distributor Company, yang membagikan berbagai insight mengenai bagaimana profesional HR dapat membangun rencana kinerja personal, memanfaatkan teknologi, serta berkembang menjadi HR yang lebih strategis.

Selain sesi diskusi dan tanya jawab bersama para peserta, acara ini juga menghadirkan pengenalan solusi Smart Salary yang dirancang untuk membantu tim HR bekerja lebih efisien melalui digitalisasi proses HR dan payroll.

Mengapa HR Perlu Memiliki Rencana Kinerja untuk Dirinya Sendiri?

Salah satu insight menarik yang disampaikan dalam webinar adalah adanya paradoks yang sering terjadi di dunia HR. HR bertugas merancang sistem KPI, OKR, dan evaluasi kinerja bagi seluruh karyawan, namun sering kali tidak memiliki rencana kinerja yang terstruktur untuk dirinya sendiri.

Akibatnya, banyak profesional HR yang bekerja secara reaktif, fokus menyelesaikan tugas harian tanpa arah pengembangan yang jelas. Kondisi ini dapat menyebabkan beberapa tantangan seperti:

Tantangan
Dampak
Terlalu fokus pada pekerjaan administratif
Sulit memiliki waktu untuk pekerjaan strategis
Tidak memiliki target pengembangan pribadi
Karier berjalan stagnan
Beban kerja tinggi tanpa arah yang jelas
Meningkatkan risiko burnout
Sulit menunjukkan kontribusi bisnis
HR dipandang sebagai cost center

Dalam sesi ini, Bu Retno menekankan bahwa profesional HR juga perlu mengelola kinerja dan pertumbuhan kariernya dengan pendekatan yang sama seperti saat mengelola karyawan lainnya.

Memulai dari Penilaian Diri yang Jujur

Sebelum menyusun rencana pengembangan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan penilaian diri secara objektif. Menurut Bu Retno, terdapat empat dimensi utama yang perlu dievaluasi oleh profesional HR.

1. Kompetensi Teknis

Meliputi pemahaman mengenai hukum ketenagakerjaan, HRIS, people analytics, compensation and benefit, hingga proses rekrutmen dan manajemen talenta.

2. Kompetensi Perilaku

Mencakup kemampuan komunikasi, empati, negosiasi, kepemimpinan, coaching, dan kemampuan memengaruhi pemangku kepentingan.

3. Pemahaman Bisnis

HR perlu memahami strategi perusahaan, kondisi bisnis, dasar keuangan, serta bagaimana setiap program HR dapat mendukung pencapaian target organisasi.

4. Kematangan Digital

Kemampuan beradaptasi dengan teknologi, mengambil keputusan berbasis data, dan memahami pemanfaatan AI menjadi kompetensi yang semakin penting bagi HR masa kini.

Melalui evaluasi yang jujur, HR dapat mengidentifikasi area yang menjadi kekuatan, peluang pengembangan, maupun risiko yang perlu segera ditingkatkan.

Mengenal P3: Rencana Kinerja Personal untuk Profesional HR

Salah satu konsep utama yang dibahas dalam webinar adalah P3 atau Rencana Kinerja Personal. Bu Retno menjelaskan bahwa P3 bukan sekadar dokumen formal, melainkan kompas yang membantu profesional HR mengarahkan pertumbuhan kariernya secara terstruktur.

P3 terdiri dari tiga elemen utama:

Elemen
Fokus
Purpose
Dampak yang ingin diciptakan sebagai profesional HR
Position
Posisi saat ini dibandingkan target yang ingin dicapai
Plan
Langkah konkret untuk mencapai tujuan

Agar lebih efektif, P3 juga perlu memuat tujuan karier, target yang terukur, gap kompetensi yang perlu dikembangkan, rencana aksi, serta indikator keberhasilan yang jelas.

Sebagai contoh, seorang HR dapat menetapkan target untuk menurunkan turnover sebesar 15 persen, mempercepat waktu rekrutmen menjadi kurang dari 30 hari, atau meningkatkan kemampuan people analytics melalui sertifikasi tertentu.

Rencana 90 Hari untuk Mendorong Pertumbuhan Karier HR

Dalam webinar, Bu Retno juga membagikan kerangka sederhana yang dapat langsung diterapkan oleh para profesional HR melalui pendekatan 30, 60, dan 90 hari.

30 Hari Pertama

Melakukan penilaian diri, menentukan prioritas utama, dan mulai membangun satu kebiasaan baru yang mendukung pengembangan diri.

60 Hari Berikutnya

Menjalankan rencana aksi yang telah dibuat, melakukan evaluasi kemajuan, dan meminta masukan dari atasan atau rekan kerja.

90 Hari

Melakukan evaluasi hasil, memperbarui target berikutnya, serta mempresentasikan pencapaian yang telah berhasil diraih.

Pendekatan ini membantu HR mengubah tujuan besar menjadi langkah yang lebih realistis dan terukur.

AI Bukan Ancaman, Melainkan Co Pilot bagi HR

Topik lain yang mendapatkan perhatian besar dalam webinar adalah pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pekerjaan HR.

Masih banyak kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran HR. Namun menurut Bu Retno, realitanya AI lebih berperan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja profesional HR. AI menggantikan tugas yang berulang, bukan menggantikan peran manusia dalam mengambil keputusan.

Beberapa contoh pemanfaatan AI dalam HR yang dibahas antara lain:

Pemanfaatan AI
Manfaat
Rekrutmen cerdas
Membantu proses penyaringan kandidat
Prediksi turnover
Mengidentifikasi risiko resign lebih awal
Chatbot HR
Menjawab pertanyaan administratif secara otomatis
Personalisasi pembelajaran
Merekomendasikan pelatihan sesuai kebutuhan
Sentiment analysis
Memahami tingkat engagement karyawan

Bu Retno juga menunjukkan bagaimana AI dapat membantu aktivitas sehari hari HR, mulai dari membuat job description, melakukan riset benchmark industri, menyusun coaching script, hingga mengubah data menjadi insight yang siap dipresentasikan kepada manajemen.

Mindset Baru yang Dibutuhkan Profesional HR

Selain penguasaan teknologi, perubahan pola pikir menjadi faktor penting dalam perkembangan karier HR.

Dalam sesi ini, Bu Retno mengajak peserta untuk beralih dari mindset lama menuju mindset HR modern. Beberapa perubahan yang perlu dilakukan antara lain:

Mindset Lama
Mindset Baru
HR sebagai departemen administrasi
HR sebagai business partner strategis
Hanya mengikuti aturan
Menjadi penggerak perubahan
Data adalah urusan tim lain
Data menjadi bahasa HR modern
AI dianggap ancaman
AI menjadi penguat dampak kerja HR
Menunggu arahan
Proaktif memberikan solusi

Perubahan pola pikir ini menjadi fondasi penting agar HR dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap keberhasilan organisasi.

Dari HR Operasional Menjadi HR Strategis

Salah satu pesan paling kuat dari webinar ini adalah pentingnya perjalanan HR dari peran operasional menuju peran strategis. Bu Retno menggambarkan evolusi tersebut melalui tahapan mulai dari HR administratif, HR operasional, HR Business Partner, hingga HR strategis yang mampu menjadi advisor bagi pimpinan perusahaan.

Untuk mencapai tahap tersebut, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  1. Mengurangi pekerjaan administratif melalui otomatisasi dan teknologi.
  2. Meningkatkan business acumen dengan memahami laporan keuangan dan KPI bisnis.
  3. Secara aktif mengusulkan solusi berbasis data terhadap permasalahan bisnis.
  4. Membangun kepercayaan sebagai mitra strategis bagi manajemen.

Semakin tinggi kemampuan HR dalam menghubungkan strategi people dengan tujuan bisnis, semakin besar pula nilai yang dapat diberikan kepada organisasi.

Smart Salary Mendukung Transformasi HR yang Lebih Strategis

Sejalan dengan tema webinar, Smart Salary turut memperkenalkan solusi HR dan payroll yang membantu perusahaan mengurangi pekerjaan administratif yang repetitif melalui digitalisasi proses HR.

Dengan otomatisasi payroll, pengelolaan data karyawan, absensi, hingga berbagai proses administrasi lainnya, tim HR dapat menghemat waktu operasional dan lebih fokus pada aktivitas yang memberikan dampak strategis bagi bisnis.

Transformasi HR bukan hanya tentang bekerja lebih cepat, tetapi juga tentang menciptakan ruang bagi HR untuk berkontribusi lebih besar dalam pengambilan keputusan, pengembangan talenta, dan pertumbuhan organisasi.

Membawa Dampak Lebih Besar Melalui Perencanaan yang Tepat

Melalui HR Smart Talk Episode 4, peserta mendapatkan banyak insight bahwa pertumbuhan karier HR tidak terjadi secara otomatis. Dibutuhkan kesadaran untuk mengevaluasi diri, menyusun rencana pengembangan yang jelas, mengadopsi teknologi, serta membangun mindset yang lebih strategis.

Seperti yang disampaikan oleh Bu Retno, langkah besar dalam karier sering kali dimulai dari satu tindakan sederhana hari ini. Bagi para profesional HR, mungkin langkah tersebut adalah mulai menyusun Rencana Kinerja Personal pertama dan mengambil peran yang lebih aktif dalam menciptakan dampak bagi organisasi.

Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti HR Smart Talk Episode 4. Sampai jumpa di sesi Smart Talk berikutnya dengan insight dan diskusi menarik lainnya untuk mendukung perkembangan komunitas HR Indonesia.

WhatsApp
×
Scan QR

Scan to Chat

Scroll to Top