Too long to read?
Let ChatGPT summarize this Smart Salary article for you in seconds.
HR Smart Connect Episode 1
Pada 16 April 2026, Smart Salary menggelar HR Smart Connect dengan tema The Reality of a Healthy Workplace Today Stay, Leave, or Just Survive di Twin House, Blok M. Berkolaborasi dengan HR Community, bersama HRSync dan HR Millennial Indonesia, sesi ini menghadirkan para HR dan profesional dari berbagai industri dalam format intimate discussion.
Acara ini juga menghadirkan dua pembicara, yaitu Shi Kaixin selaku Marketing Manager Decathlon Indonesia dan Ricky Halim sebagai Brand and Communication dari Smart Salary, yang membagikan perspektif praktis mengenai realita workplace saat ini.
Dengan suasana yang santai namun tetap meaningful, diskusi ini membuka sudut pandang baru tentang apa yang sebenarnya membentuk workplace yang sehat. Bukan hanya dari benefit atau kebijakan, tetapi dari fondasi yang lebih mendalam.
Workplace Sehat Dimulai dari Manusia

Memasuki sesi sharing dari Shi Kaixin, pembahasan mulai mengarah pada peran manusia sebagai fondasi utama dalam membangun workplace yang sehat. Workplace yang sehat tidak bisa hanya dibangun dari sistem atau kebijakan semata. Semuanya dimulai dari manusia.
Di Decathlon, proses ini bahkan sudah dimulai sejak rekrutmen. Perusahaan tidak hanya mencari kandidat berdasarkan skill, tetapi juga melihat keselarasan nilai, terutama individu dengan gaya hidup aktif dan pola pikir positif. Pendekatan ini membantu membangun budaya kerja yang kuat sejak awal.
Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan suportif juga menjadi prioritas. Salah satu caranya adalah dengan membuka ruang feedback anonim, sehingga karyawan dapat menyampaikan pendapat tanpa rasa khawatir. Bahkan, tingkat kebahagiaan karyawan diukur secara rutin, dan ketika terjadi penurunan, perusahaan akan segera mengambil tindakan.
Hal ini menunjukkan bahwa performa dan kesejahteraan bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan harus berjalan beriringan.
Kepemimpinan yang Mendukung
Dalam sesi ini juga dibahas bahwa peran leader tidak lagi hanya tentang mengarahkan, tetapi lebih kepada mendukung.
Seorang leader diharapkan mampu membantu tim berkembang, menciptakan ruang aman untuk belajar, bahkan dari kesalahan. Mindset menjadi hal yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar kemampuan teknis.
Selain itu, keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan juga menjadi kunci. Melalui workshop, diskusi, hingga sesi one on one, karyawan didorong untuk aktif berkontribusi. Pendekatan ini tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi juga menciptakan rasa memiliki terhadap hasil kerja.
Transparansi dan Kejelasan yang Sering Terlewat
Salah satu insight penting yang muncul adalah bahwa workplace yang sehat tidak selalu tentang benefit besar, tetapi tentang kejelasan.
Mulai dari jalur karier, sistem kerja, hingga komunikasi sehari hari, semuanya harus transparan dan mudah dipahami. Tools yang digunakan pun seharusnya tidak hanya berfungsi secara operasional, tetapi juga membantu menciptakan kejelasan dan mengurangi kebingungan.
Ketika karyawan tahu arah mereka, memahami ekspektasi, dan merasa diperlakukan secara adil, motivasi kerja akan terbentuk secara alami.
Masalahnya Bukan di Karyawan Tapi di Sistem

Sesi berikutnya dibawakan oleh Ricky Halim sebagai Brand and Communication dari Smart Salary yang mengangkat mengenai realita workplace saat ini, khususnya terkait tingkat engagement karyawan.
Ricky membuka pemaparannya dengan menyoroti fenomena disengagement yang saat ini semakin nyata terjadi di dunia kerja. Berdasarkan data dari Gallup, sekitar 68% karyawan di Asia Tenggara berada dalam kondisi disengaged atau yang sering disebut sebagai quiet quitting, yaitu bekerja sekadarnya tanpa keterikatan emosional yang kuat terhadap pekerjaan mereka.
Data ini menunjukkan bahwa permasalahan engagement bukan terletak pada individu semata, melainkan ada faktor sistemik yang memengaruhi pengalaman kerja secara keseluruhan.
Ricky menjelaskan bahwa banyak karyawan terlihat tidak engaged, tetapi sebenarnya mereka hanya sedang bertahan. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena sistem yang tidak jelas membuat mereka sulit berkembang.
Kurangnya transparansi, proses yang tidak terstruktur, serta KPI yang tidak terdefinisi dengan baik menjadi hambatan utama. Dalam kondisi seperti ini, karyawan cenderung kehilangan arah dan hanya fokus untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami kontribusi mereka secara lebih besar.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa karyawan tidak bertahan karena slogan perusahaan, tetapi karena sistem yang benar benar berjalan. Kejelasan dalam proses, akses terhadap informasi, serta struktur kerja yang transparan menjadi faktor penting dalam menciptakan pengalaman kerja yang suportif.
Sistem yang baik memungkinkan karyawan untuk mengakses informasi secara mandiri, mulai dari performa hingga aspek administratif seperti payroll dan absensi. Dengan demikian, kebingungan dapat dikurangi dan karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan yang memberikan nilai.
Ketika fondasi ini terpenuhi, karyawan tidak hanya bertahan, tetapi memiliki ruang untuk berkembang dan memberikan performa terbaiknya.
Dari Diskusi Santai ke Insight yang Lebih Dalam
Seiring berjalannya sesi, diskusi berkembang menjadi lebih interaktif dan terasa semakin personal.
Para partisipan mulai lebih terbuka dalam berbagi insight dan pengalaman mereka di dunia kerja. Percakapan yang terbangun pun menjadi lebih dekat dan relevan, memungkinkan pertukaran perspektif yang jujur sekaligus aplikatif.
Ruang diskusi ini juga membuka pembahasan yang lebih konkret, mulai dari tantangan yang dihadapi sehari hari hingga eksplorasi solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing masing perusahaan.
Saat Karyawan Tidak Lagi Sekadar Bertahan
Diskusi ini kembali menegaskan bahwa workplace yang sehat tidak hanya tentang fasilitas atau benefit, tetapi tentang bagaimana perusahaan membangun fondasi yang berpusat pada manusia.
Mulai dari proses rekrutmen, kepemimpinan yang suportif, komunikasi yang terbuka, hingga sistem yang jelas dan transparan, semuanya memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya membuat karyawan bertahan, tetapi juga berkembang.
Ketika karyawan merasa aman, dihargai, dan didukung, mereka akan lebih siap untuk memberikan kontribusi terbaiknya secara berkelanjutan.
Download Materi Presentasi:



